Tjong A Fie

Tjong A Fie merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Kota Medan pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Dari seorang perantau muda asal Tiongkok, ia berkembang menjadi pengusaha sukses dan pemimpin komunitas yang berperan penting dalam membentuk perkembangan ekonomi, sosial, dan budaya kota.

 

Ia lahir pada tahun 1860 di Meixian, Provinsi Guangdong, Tiongkok. Berasal dari keluarga sederhana, ia tidak menyelesaikan pendidikan formalnya dan sejak muda telah membantu usaha keluarga bersama kakaknya, Tjong Yong Hian. Pada usia sekitar 17–18 tahun, ia menyusul kakaknya merantau ke Deli, di mana perjalanan hidup dan kariernya kemudian berkembang pesat.

 

Perjalanannya dimulai dari pekerjaan sederhana, seperti penjaga toko dan kurir, hingga kemudian berkembang menjadi pengusaha sukses melalui ketekunan, kemampuan bisnis, serta penguasaan bahasa dan lingkungan lokal. Bersama Tjong Yong Hian, ia membangun jaringan usaha yang luas dan menjalin hubungan erat dengan pemerintah kolonial Belanda, Kesultanan Deli, serta para pelaku bisnis di kawasan Sumatra dan sekitarnya.

 

Kesuksesannya membawanya pada peran penting dalam masyarakat. Ia diangkat menjadi pemimpin komunitas Tionghoa dan secara bertahap menduduki berbagai posisi, mulai dari Letnan Tionghoa hingga akhirnya menjadi Kapitan Cina (Majoor der Chineezen) pada tahun 1911, menggantikan kakaknya. Dalam perannya ini, ia menjadi penghubung antara pemerintah kolonial Belanda, Kesultanan Deli, dan masyarakat multietnis di Medan.

 

Selain di bidang kepemimpinan, Tjong A Fie juga aktif dalam dunia usaha dan keuangan. Ia terlibat dalam berbagai sektor, termasuk properti, perkebunan, perbankan, hingga infrastruktur seperti perkeretaapian. Ia turut mendirikan lembaga keuangan seperti Deli Bank dan Batavia Bank, serta biro remitansi untuk membantu para pekerja Tionghoa mengirimkan uang ke tanah asal mereka.

 

Kontribusinya tidak hanya terbatas pada bidang ekonomi, tetapi juga pada pembangunan sosial. Ia dikenal atas dukungannya terhadap pembangunan tempat ibadah, rumah sakit, jembatan, serta institusi pendidikan, baik di Medan maupun di luar negeri.

 

Pada 4 Februari 1921, Tjong A Fie wafat secara mendadak dan meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Medan. Kepergiannya disambut oleh penghormatan luas dari berbagai kalangan, mencerminkan besarnya pengaruh dan penghargaan terhadap dirinya sebagai pemimpin dan dermawan. Warisan yang ditinggalkannya tidak hanya terlihat dalam bentuk fisik, tetapi juga dalam nilai-nilai kepedulian, toleransi, dan kebersamaan yang terus hidup dalam masyarakat Medan hingga saat ini.