Bakul Siah
(Keranjang Pernikahan Peranakan)

B

akul Siah merupakan keranjang pernikahan tradisional masyarakat Peranakan yang digunakan dalam upacara pernikahan untuk membawa hadiah, perlengkapan upacara, perhiasan, kue, serta seserahan yang dipertukarkan antara keluarga mempelai pria dan mempelai wanita. Keranjang bambu berlapis lak merah dan hitam ini dibuat dengan pengerjaan yang indah dan umumnya diwariskan sebagai pusaka keluarga, bukan sekadar digunakan sebagai perlengkapan upacara.

 

Setelah upacara pernikahan selesai, Bakul Siah sering dimanfaatkan sebagai hiasan yang mencerminkan warisan budaya, tempat penyimpanan barang-barang berharga atau perlengkapan untuk acara khusus, serta diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai pusaka keluarga. Bagi banyak keluarga Peranakan di Singapura dan Malaysia, Bakul Siah memiliki makna simbolis sebagai penghubung antargenerasi sekaligus lambang pelestarian identitas budaya Peranakan.

 

Pada masa Tjong A Fie, keberadaan Bakul Siah mencerminkan pentingnya ikatan kekeluargaan, status sosial, dan pelestarian tradisi dalam masyarakat Peranakan di Medan. Benda ini juga menunjukkan bagaimana komunitas Tionghoa Peranakan tetap mempertahankan warisan budayanya sambil beradaptasi dengan kehidupan masyarakat Medan yang multikultural. Saat ini, upacara pernikahan umumnya diselenggarakan dengan lebih sederhana, sementara seserahan lebih sering menggunakan kotak, baki, atau kemasan dekoratif yang lebih praktis dan mudah diperoleh.

Halaman ini dikembangkan melalui kolaborasi antara BINUS University dan Bedok View Secondary School, dengan dukungan dari Konsulat Jenderal Singapura di Medan melalui bimbingan Eric Wijaya, dan dengan bangga dibangun oleh tim siswa yang terdiri dari Nayra Athirah Binte Shaiful Amjad, Muria Nur Jannah Darwisyah Binte Rosli, Goh Yu Zhe, and Mak Jian En Jaden.