Lampu Minyak Antik
Lampu minyak antik dengan desain kucing yang unik ini merupakan salah satu sumber penerangan yang digunakan di dapur pada masa lalu. Lampu ini membantu para juru masak melihat dengan jelas saat memasak dan melakukan berbagai pekerjaan di dapur. Dengan penerangan yang memadai, kesalahan saat memasak dapat diminimalkan sehingga pekerjaan dapat dilakukan dengan lebih efektif.
Keberadaan lampu minyak ini menunjukkan bahwa kehidupan pada masa lalu sangat berbeda dengan kehidupan saat ini. Perkembangan teknologi telah menghadirkan berbagai alternatif penerangan yang lebih praktis dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat modern.
Lampu minyak mulai digunakan di Indonesia sekitar abad ke-8 hingga ke-10. Dibandingkan dengan sumber penerangan awal lainnya, seperti obor terbuka dan lilin sederhana yang menggunakan lemak hewan, lampu minyak lebih banyak digunakan karena menghasilkan cahaya yang lebih bersih, tahan lebih lama, dan lebih dapat diandalkan. Hal tersebut menjadikannya salah satu bentuk penerangan yang paling stabil pada masanya.
Penggunaan lampu minyak juga tidak terbatas pada keluarga Tjong A Fie. Peralatan penerangan ini digunakan secara luas oleh masyarakat di Indonesia dan berbagai wilayah Asia Tenggara.
Namun, keluarga Tjong A Fie diketahui memiliki koleksi lampu minyak yang cukup beragam. Koleksi tersebut mencakup lampu minyak berbahan porselen bergaya Tionghoa dan Peranakan, lampu minyak tanah bergaya Victoria dan Eropa, hingga lampu gantung bergaya Kolonial Belanda.
Halaman ini dikembangkan melalui kolaborasi antara BINUS University dan Bedok View Secondary School, dengan dukungan dari Konsulat Jenderal Singapura di Medan melalui bimbingan Jocelynn, dan dengan bangga dibangun oleh tim siswa yang terdiri dari Fu Ziqing, Rao Jingping, Madathil John Kurian, dan Eilan Na’il Marican Bin Mohammed Shukor。
