Ruang Makan Keluarga Tjong A Fie

Meja makan keluarga Tjong A Fie dan hiasan dinding merah bermotif sulaman bukan sekadar perabot antik dan dekorasi tradisional, tetapi juga merupakan simbol keharmonisan budaya dan prestise sosial. Perpaduan desain bergaya Eropa pada meja makan dengan nilai-nilai tradisional Tionghoa yang tercermin pada hiasan dinding menunjukkan identitas unik masyarakat Peranakan kelas atas di Medan pada awal abad ke-20. Pada masa Tjong A Fie, ruang makan tidak hanya berfungsi sebagai ruang keluarga, tetapi juga menjadi tempat berlangsungnya pertemuan bisnis, diplomasi, dan pertukaran nilai-nilai budaya yang terjalin melalui jamuan makan bersama.

 

Mempelajari kedua artefak bersejarah ini juga memperlihatkan bagaimana gaya hidup masyarakat telah mengalami perubahan yang signifikan selama lebih dari satu abad. Penggunaan meja jamuan dari kayu solid berukuran besar serta hiasan dinding sutra yang disulam dengan tangan mencerminkan kuatnya tradisi, kehidupan keluarga besar, dan budaya menjamu tamu yang berpusat di rumah. Sebaliknya, perabot dan dekorasi masa kini cenderung mengutamakan desain yang minimalis, praktis, serta diproduksi secara massal. Perubahan ini mencerminkan pergeseran gaya hidup masyarakat dari tradisi menjamu tamu dan membangun hubungan sosial di lingkungan rumah menuju ruang-ruang modern yang lebih fungsional dan berorientasi pada kebutuhan era digital.

 

Melalui peninggalan yang masih terpelihara di Tjong A Fie Mansion, kita dapat menjembatani masa lalu dengan masa kini. Meja makan dan hiasan dinding ini memberikan gambaran nyata mengenai nilai-nilai kerja keras, toleransi budaya, dan penghormatan terhadap leluhur yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Medan pada masa kejayaannya. Dengan melestarikan dan memahami artefak-artefak tersebut, kita tidak hanya dapat lebih menghargai akar budaya yang dimiliki, tetapi juga memahami bagaimana warisan multikultural yang ditinggalkan oleh tokoh seperti Tjong A Fie terus membentuk identitas Kota Medan hingga saat ini.

Halaman ini dikembangkan melalui kolaborasi antara BINUS University dan Bedok View Secondary School, dengan dukungan dari Konsulat Jenderal Singapura di Medan melalui bimbingan Nadine Indira Putri, dan dengan bangga dibangun oleh tim siswa yang terdiri dari Ho Xuan Yu Tracey, Liu Zhilan, Altus Teo, dan Vadivel Mithilesh.